Warning: ob_start() [ref.outcontrol]: output handler 'ob_gzhandler' conflicts with 'zlib output compression' in /home/darussho/public_html/index.php on line 4
Darus Sholah Jember :: Pondok Pesantren Modern Berjiwa Salafiyah
Selamat Datang di Situs Resmi Pondok Pesantren Darus Sholah www.darussholah.net Jl M Yamin 25 Jember Jawa Timur Email darussholah@gmail.com by Dwi Siswanto Copyright 2007-2010

Islam Indonesia vis a vis Islam Trans-Nasional

Penulis : M. Yusron | dibaca 329 kali | 2010-01-18 22:00:00

Islam Indonesia vis a vis Islam Trans-Nasional
Oleh; M. Yusron

Wacana tentang " Islam Transnasional" semakin menggurita dan bahkan tidak hanya berhenti pada tingkatan wacana. Transnasional sebagai sebuah 'isme' dalam Islam, telah masuk jauh dan semakin menggerogoti kerangka Islam dan tatanan kaum muslimin di seluruh dunia, tidak terkecuali di Indonesia.

Islam Indonesia yang terwakili oleh dua arus besar; NU dan Muhammadiyah berlomba-lomba membentengi dan menyelematkan ummatnya untuk tidak terjerumus jauh dalam arus "Wahabi Global wa Akhwatuhu" . hal tersebut sangatlah wajar dan mungkin masuk dalam kategori "Wajib". Transnasional sebagai isme islam yang mengedepankan 'kekerasan' sangat tidak sejalan dengan kerangka Islam yang telah lama mengakar di bumi pertiwi ini.

NU dan Muhammadiyah sebagai gerakan organisasi masyarakat muslim Indonesia telah sepakat meletakkan dasar-dasar ke-Islamannya dalam konteks Negara Bangsa. Hal ini telah tercermin sejak bagaimana NU dan Muhammadiyah di didirikan oleh masing-masing pendirinya. Dalam perjalanannya kemudian, NU dan Muhammadiyah tampil dengan kerangka dakwah yang arif, santun, toleran, dan egaliter terutama dalam menyikapi perbedaan internalnya dan lebih besar dalam menyikapi keberagamaan suku, ras, dan agama yang ada di Indonesia. Dua Organiasi masyarakat Islam tersebut dalam menyikapi persoalan ikhtilafiyah selalu mengedepankan musyawaroh, muhaasabah, dalam kerangka "ishlah" mengikuti jejak ulama' dan penyiar Islam terdahulu seperti "Wali Songo".

Retorika dakwah NU dan Muhammadiyah adalah cerminan bagaimana Islam sebagai Agama selalu mengedepankan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan kearifan dalam mengembangkan sayap-sayapnya. Sama sekali tidak ada paksaan bagi kaum lain untuk memeluk Islam sebagai Agama mereka, semua kembali pada penyadaran diri masing-masing manusianya. Tidak ada kata kafir, tidak juga mudah mengucapkan kata murtad, bahkan sampai menghalalkan darah sesama manusia dan sesame muslim yang tidak sepaham dengan NU dan Muhammadiyah.
Lebih jauh lagi, sebagai Organisasi Masyarakat yang berada dalam wilayah kedaulatan NKRI, NU dan Muhammadiyah selalu menjunjung Pancasila sebagai tafsiran monoteisme dalam ber-Tuhan dan humanisme dalam kerangka kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Inilah wajah Islam, inilah pribadi Islam sebagai agama bangsa yang harus kita junjung, agar patron "Rohmatan Lil Alamin" tetap melekat erat pada Islam.
Oleh karena itu, kita harus menutup aliran Transnasional-isme dengan berbagai symbol yang melakat pada mereka. Pengkafiran, pemurtadan, terorisme, yang berujung pada pembunuhan antar sesama muslim dan sesama manusia adalah cerminan matinya Islam itu dalam konteks rohmatan lil alamin. Semuanya adalah wujud ketidakberdayaan dan ketidakmampuan sebagian kecil pemeluk Islam dalam menghadapi kekinian 'post modernisme'. Mereka putus asa, dan pada akhirnya berujung pada upaya-upaya penggalian penggalan-penggalan Teks Suci ''Al-Qur'an" yang berusaha mereka tampilkan untuk melegitimasi gerakan dakwah mereka.
Tafsir buta yang mengabaikan prinsip-prinsip dialogis dan kontekstualis yang dipakai gerakan Transnasional-isme, telah mengesampingkan hasil karya dan pemikiran para ulama' dan ahli hukum pada masa keemasan Islam dibawah dinasti Abbasiyah dan Ummayyah. Mereka menanggap bahwa khazanah Islam pada masa sahabat adalah diluar dari pada Islam, dan itu semua dalam kategori sesat dan bid'ah.
Transnasional-isme tidak pernah belajar sejarah bagaimana Islam beserta nilai-nilai luhur yang melekat pada Islam berkembang pesat justru pada masa shohabat, tabi'iin, dan tabiiit tabi'iin. Atas pemikiran para ahli dan ulama' itulah Islam mampu tampil bukan hanya dalam kerangka ubudiyah, namun lebih dari itu Islam turut tampil dalam menyelesaikan berbagai masalah ke-ummatan yang terjadi pada masa itu. Atas pemikiran para ulama' inilah muncul berbagai metode baru dalam mentafsirkan Islam, untuk kemudian menyebarkan Islam sesuai dengan konteks dimana Islam itu diterima.
Sisi kontekstualitas inilah yang kemudian memunculkan wacana dialog antara Islam sebagai agama, dengan pluralitas umat yang menerima ajaran Islam. Oleh karena itu, dalam kesejarahan perkembangan Islam, kita mengenal berbagai teori dan pendekatan yang dilakukan oleh juru dakwah Islam agar Islam dapat berkonunikasi dan kemudian menyakinkan bagi ummat yang akan menerima Islam sebagai agama mereka.
Itulah wajah Islam yang sesungguhnya, yaitu agama yang luwes, toleran, egaliter dan mengakui adanya berbagai suku serta bangsa yang tersebar diseluruh dunia, tidak terkecuali di negara kita tercinta Indoesia. Oleh karena itu, sebagai kaum muslim yang mengenal sejarah dan menghormati warisan para ulama' pendahulu kita, kita harus meneruskan penrjuangan dakwah Islam sesuai dengan karakter bangsa Indonesia, yaitu dengan mengenalkan dan mengajarkan Islam dengan ramah, santun, toleran, dan selalu membuka pintu dialog. Bukan dengan pedang, bukan pula dengan terror yang selama ini menghantui ummat manusia

2,000,000 Shoppers
Advertise your product to 2,000,000 shoppers. Just for $19.90
Click Here...
Watch Over 4500 Channels
Direct on Your PC. No Monthly Fees. 100% Legal. Unlimited Usage
Click Here...

kirim ke teman | versi cetak

 Keagamaan Lainnya



Artikel Terbaru | Artikel Terpopuler | Tambah Artikel | Cari Artikel